THALES "sang bapak filsafat"
BIOGRAFI
Thales lahir pada tahun 604 SM-545 SM di Miletos, sebuah kota di asia kecil. Miletos merupakan kota Maritim, Dimana kota tersebut merupakan kota yang maju. Konsisi sosial masyarakat Miletos kala itu mengenal sistem kelas sosial, Dimana ada perbedaaan kelas antara masyarakat yang kaya dengan yang miskin.
Thales merupakan seorang saudagar, sehingga
beliau dapat menempuh Pendidikan yang layak dan bertemu berbagai orang. Sebagai
saudagar, Thales sering melakukan perjalanan bisnisnya ke Babilonia, sebuah
kota maju di dataran Mesir. Mesir dikenal dengan budayanya yang lebih maju
dibandingkan Miletos kala itu.
Thales juga dikenal sebagai orang yang ahli
dalam menghitung, dan dengannya dia dapat menjadi saudagar kaya raya. Ketika di
Mesir, dia mempelajari ilmu Kalender Babilonia, yaitu tentang ilmu gerhana
bulan sehingga dia bisa memprediksi terjadinya gerhana matahari.
TEOREMA THALES: GEOMETRI
Teorema Thales berhubungan dengn ilmu
matematika, yang digunakan untuk menghitung suatu jarak. Ada 3 konsep teorema
Thales:
1.
Tidak sama dengan, Ketika ada dua garis sejajar
(=), dipotong dari atas kebawah itu menciptakan sudut. Dari sifatnya reflektif.
2.
Segitiga reflektif, Ketika ada segitiga,
ditarik keatas, menyilang lagi, sudutnya
akan menjadi sama persis dan membentuk segitiga yang sama.
3.
Segitiga dalam lingkaran, gambar lingkaran,
ditarik garis diameter ‘a’ dan ‘b’, lalu ditarik garis ‘c’, akan selalu
membentuk sudut siku-siku.
PEMIKIRAN THALES TENTANG AIR
Thales berpikir dan menyimpulkan bahwa semua
hal di dunia berasal dari air, karena dia melihat semua kehidupan manusia
bergantung pada air. Pada perjalannanya itu Thales pergi ke Mesir melewati
Sungai Nil, dan di sekitar Sungai Nil ada daerah yang subur dan dapat di
tinggali oleh manusia. Itu dikarenakan luapan air Sungai yang memakmurkan
daerah tersebut, namun di lain kesempatan, Ketika perjalannya berlayar, ia
melihat kedasyatan ombak air laut yang mampu menenggelamkan apa saja yang
dihadapannya, serta air Sungai yang membanjiri daratan sehingga menyebabkan
bencana dan menghanyutkan manusia yang tinggal disekitarnya serta menghancurkan
peradaban yang sebelumya ada disana.
Dari situlah Thales berpikir bahwa dari air
semuanya ditumbuhkan dan dengan air pula semua hal dibinasakan. Pengalaman
tersebut yang kemudian menjadikan Thales menganggap air adalah substansi (isi)
dan substrat (bangkai/jasad).
KEPERCAYAAN THALES
Kepercayaan batin Thales yaitu animisme, yaitu
kepercayaan bahwa bukan hanya sesuatu yang hidup saja yang punya jiwa, tetapi
benda mati juga punya jiwa. Ini juga yang menguatkan pendapat sebelumnya
mengenai pemikirannya mengenai dzat utama pembentuk alam. Benda berubah
rupanya, bentuknya, dapat bergerak dan dapat muncul dan hilang sesuai
kodratnya.

Komentar
Posting Komentar