Revitalisasi Humanisme IMM : Berkontribusi dalam Kaderisasi Ikatan
Revitalisasi Humanisme IMM : Berkontribusi dalam
Kaderisasi Ikatan
Oleh Alicia Tri Yuliana
Perlu kita ketahui
bahwa setiap gerakan pasti mempunyai tujuan untuk mencapai tujuan. Begitu juga
dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, organisasi ini salah satu organisasi
otonom Muhammadiyah, yang merupakan wadah perjuangan untuk menghimpun,
menggerakan dan membina potensi mahasiswa Islam guna meningkatkan peran dan
tanggung jawabnya sebagai kader persyarikatan, kader ummat dan kader bangsa
sehingga akan tumbuh kader kader yang memiliki kerangka berpikir ilmu alamiyah
dan kader amal ilmiah sesuai dengan Kepribadian Muhammadiyah. Dengan
ideologinya yang bersumber dari Alqur’an dan Assunah yang memiliki tujuan
terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan
muhammadiyah. Terlepas dari itu IMM mempunyai enam penegasan yang diambil tiga
garis besar yang diwujudkan dalam Tri Kompetensi Dasar (Religiusitas,
Intelektualitas, Humanitas) yang merupakan media perjuangan IMM yang mengarah
pada bidang keagamaan, kemahasiswaan dan kemasyarakatan.
Dalam predikat
Humanis berkaitannya dengan kesejahteraan manusia dalam melawan dehumanitis
atau tidak berkemanusiaan, dan juga sebagai objek dalam pengaktualisasian ilmu
sebagai cara objektif dan realistis yang diperoleh dari berbagai aspek
pembelajaran sehingga mampu diterima oleh masyarakat banyak. Karena pada
dasarnya tercapainya suatu tujuan itu tergantung pada seberapa besar
terbentuknya transformasi yang diterima oleh masyarakat banyak. Sehingga dalam
penerapannya kader IMM diharuskan memiliki jiwa kemanusiaan dan rasa
solidaritas yang tinggi sesama manusia dan mampu mempelopori serta menjadi
teladan dalam perubahan yang terjadi di masyarakat. Dengan begitu perlu adanya
kesamaan proporsi dalam penerapan trikompetensi dasar serta integritas yang
saling mendukung sebagai penyeimbang dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita
ikatan.
Gerakan kemanusiaan
berarti komitmen kader IMM untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak hanya Care
of Humanity, tapi merupakan cita cita terbesar IMM untuk membagun dunia
yang lebih humanis-transenden. Dalam sisi humanitas, implementasinya memang
belum secara baik dan nyata. Orientasinya hanya sekedar menggugurkan kewajiban.
Salah satu kegiatan bakti sosial. Hal tersebut karena kegiatan tersebut belum
tersistematis, terencana dengan baik, belum bisa memetakan masalah dengan baik
bahkan berkelanjutan seperti halnya yang sudah yaitu di wilayah Jawa Timur yang
telah membuat kampung binaan, tepatnya di Surabaya. Antara antara lain Masjid
Annur, Rumah Pintar dan JMP.[1]
Gerakan kemanusiaan
yang ingin kita (kader ikatan) perjuangan harus berangkat dari paradigma
muhammadiyah yang santun, toleran, inklusif dll. Pikiran-pikiran ingklusif dan
sikap yang terbuka dengan tetap berdasar pada nilai-nilai universitas Islam
merupakan model dari semangat aktualisasi gerakan IMM untuk kemanusiaan. Dua
hal diatas perlu direfleksikan oleh kader ikatan sebagai sebuah paradigma
gerakan kemanusiaan IMM. Sehingga gerakan kemanusiaan IMM betul-betul
dimantapkan sekuat-kuatnya ditengah gelisah dan derita kemanusiaan yang
melingkupi kehidupan peradaban manusia saat ini. Maka dari itu perlua adanya
kesadaran bersama ditengah tengah peradaban untuk membangun peradaban baru yang
lebih baik dan humanis. Meminjam istilah dari Mantan Ketua Umum Dewan Pimpinan
Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Periode 2000, Piet H. Khaedir bahwa kita
harus melakukan “Persekutuan Kemanusiaan” dimana atas nama kemanusiaan, kita harus
melakukan persekutuan untuk menyelamatkan derita kemanusiaan yang sungguh
kompleks saat ini. Piet H. Khaedir[2] mengatakan : “Ditengah
banyaknya persoalan kemanusiaan maka yang dibutuhkan adalah semacam gerakan
revolusioner moder Mazdakisme yang merekayasa penyelesaian persoalan
kemanusiaan melalui sebuah persekutuan berbasis kemanusiaan bukan berbasis
agama, etnis atau yang sebangsanya”
Berangkat dari
paradigma diatas, bahwa setiap aktivitas kader ikatan baik perkaderan formal,
non formal, dan informal seperti Darul Arqam Dasar (DAD), Darul Arqam
Madya (DAM) dan Darul Arqam Paripurna (DAP), Pelatihan-pelatihan keinstrukturan
(LID, LIM, LIP). Kegiatan-kegiatan pelatihan khusus, diskusi-kajian, dan
aktivitas-aktivitas di ikatan seluruhnya diharapkan menjadi wahana bagi
kontruksi nalar kemanusiaan yang sejati, menjadi wahana terciptanya alam
pikiran yang ingklusif, berkemajuan, berkeadaban, dan berkemanusiaan universal.
Sebagai organisasi
yang memiliki kepengurusan nasional dan tersebar hampir disemua kampus. Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) diharapkan mewarnai dan melahirkan generasi baru
dizamannya sebagai kekuatan moral dan asset pemersatu bangsa. Bukan sebaliknya
turut menjadi aktor bagi perpecahan di tengah persoalan bangsa. Seperti yang
kita ketahui bahwa moralitas seorang pemimpin banyak disangsikan dan
dipertanyakan sikap dan perilakunya. Kedzaliman terjadi dimana-mana. Dan disisi
lain rakyat menderita dan sengsara. Hanya bisa menunggu kapan negeri tercinta
ini bisa makmur dan sejahtera bagi seluruh rakyat. Tidak hanya sejahtera yang
dirasakan bagi segelintir nyawa orang. Kader IMM sejatinya dapat serta merta
berperan dari hal yang terkecil misalkan pada lingkungannya. Bahkan dari
membentuk karakter diri yang kuat, apabila setiap kader memiliki karakter
tanggung jawab yang kuat insyaAllah kapanpun dan dimanapun kader dapat
berfastabiqul khairat.
IMMawan dan
IMMawati dan intelektual islam dimanapun berada, kita semua tidak boleh
berhenti dan memang seharusnya terus belajar untuk menjadi manusia learning
to be human. Dengan demikian, fanatisme buta dalam hal apa saja dan dari
mana saja yang menjadi sumber masalah serius umat manusia saat ini dan
kedepannya dapat dicairkan setetes demi setetes, selangkah demi selangkah.
Tidaklah kita berlebihan jika kita harus mengatakan konsistensi kita sebagai
kader IMM bahwa pada akhirnya kita harus menjadi pasukan terdepan dalam menjaga
hak-hak dan martabat kemanusiaan, membelanya, memperjuangkan dari segala bentuk
penodaan dan penyelewengan. Lalu cita-cita kita membangun masyarakat dan
peradaban yang sebenar-benarnya optimis untuk segera dicapai dan diwujudkan
[2] Piet H. Khaidir, Nalar
Kemanusiaan Nalar Perubahan Sosial, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2006), 326
Komentar
Posting Komentar