Menyiapkan Ramadhan bagi Kader Ikatan
"Wahai orang-orang yang beriman, Telah diwajibkan atasmu untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kamu agar kamu bertakwa".
QS. Al-Baqarah:183
Bulan Ramadhan kini telah hadir dihadapan kita, bulan suci penuh ampunan yang telah Allah berikan untuk umat muslim sebagai salah satu bulan yang dimuliakan.
Ramadhan bukan hanya tentang puasa dan pahalanya. Ramadhan adalah bulan untuk kembali mendidik diri kembali kepada Allah SWT.
Pandangan Masyarakat
Ramadhan dalam budaya masyarakat Jawa kontemporer (masa kini) indentik dengan ritual keagamaannya seperti tadarus Al-Qur'an, sholat tarawih, sedekah kepada sesama, bahkan itikaf di masjid. Semua kegiatan tersebut semata ditujukan untuk mengharapkan pahala dan keridhoan kepada Allah SWT.
Bahkan ada sebagian masyarakat yang juga menyambut bulan suci ini dengan mengadakan tabligh Akbar, majlis sholawat, pawai, dan masih banyak lagi.
Dalam pandangan penulis, ramadhan hadir semata bukan hanya tentang ibadahnya saja.
Makna Ramadhan
Ramadhan adalah momentum kita untuk kembali menjadi umat Islam yang sebenernya. Ditutupnya pintu neraka dan dibukanya pintu Surga bukan berarti segala kegiatan kita terbebas dari cela, godaan dan dosa.
Justru maksud kalimat diatas adalah kita harus bisa dan selalu menjaga hawa nafsu untuk tidak melakukan apa yang dilarang-Nya. Puasa bukanlah semata menahan nafsu biologis. Namun juga menyadarkan akan perasaan sesama muslim yang hidup dalam keadaan papa dan kekurangan.
Membaca Alqur'an
Bacaan Al-Qur'an di bulan Ramadhan dianjurkan untuk ditadabburi. Bukan hanya membaca rangkaian ayat dengan lantunan yang merdu, namun dilengkapi dengan memahami kisah dan pelajaran serta hikmah yang terkandung didalamnya.
Mentadabburi Al-Qur'an bisa dengan mengikuti rangkaian kajian bersama para assatidz di berbagai majlis ta'lim. Tadabbur juga bisa dengan membuka berbagai literatur yang telah ada, baik fisik maupun digital seperti e-book, vidio kajian, dan lainnya.
Ramadhan bagi Ikatan
Dalam Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) tahun 2021, termaktub didalamnya bahwa falsafah gerakan kader IMM sebagai gerakan dakwah intelektual hendaknya dapat memaksimalkan akal untuk mengkaji kebenaran yang ada dalam Al-Qur'an dan as-sunah.
Dalam pencarian kebenaran, pendekatan bayani, burhani dan Irfani yang merupakan epistemologi yang dikembangkan Muhammadiyah adalah metodologi yang penulis kira tepat bagi kader ikatan.
Implementasi bayani kader dapat digunakan untuk mencari landasan hukum dalam Al-Quran dan as-sunah mengenai segala ibadah yang dianjurkan selama Ramadhan. Sehingga segala amal yang dilakukan memiliki landasan syariat yang kuat.
Burhani, menekankan kepada kader untuk dapat mendialogkan perintah puasa didalam Al-Qur'an dan as-sunah dengan realitas kehidupan di masyarakat. Sehingga kader dengan keilmuannya dapat memaksimalkan bulan ramadhan dengan amal ibadah yang juga memiliki dampak sosial keagamaan dilingkungan masyarakat.
Setelah kedua pendekatan dilaksanakan, terakhir adalah pendekatan Irfani yang berbasis pencarian makna Ramadhan dalam diri kader ikatan. Pendekatan Irfani semata adalah berdasarkan pengalaman batin masing-masing Individu kader dalam mencari dan memaknai arti bulan suci ramadhan.
Penutup
Dengan ini diharapkan Kader dapat memaksimalkan bulan suci Ramadhan kali ini dengan maksimal serta menemukan makna Ramadhan. Baik sebagai bulan untuk mendekatkan diri dengan segala kegiatan ibadahnya, untuk memperbaiki diri lewat instrospeksi atas kesalahan diwaktu yang telah lalu, atau bahkan bulan untuk bertransformasi menjadi muslim sejati dengan keshalehan individu maupun dengan mewujudkan keshalehan sosial.
Sumber:
Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) tahun 2021.



Komentar
Posting Komentar