Gambaran Tentang Instruktur dan Rencana Setelah LID
Nama saya Septian Dwi Santoso, saya lahir 21 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 11 September 1999 di Banyumas. saya memiliki seorang kakak perempuan yang menyebalkan. Bisa dibilang saya hanya numpang lahir di Banyumas, karena setelah saya lahir orang tua saya membawa saya ke Jakarta, lalu pada tahun 2004 orang tua saya membangun sebuah rumah di Bekasi dan kami pun sekeluarga pindah kesana. Rumah saya berada di Jalan Cikunir Raya, Rt.02/Rw.02 No.50, Kelurahan Jakamulya, Bekasi Selatan. Alhamdulillah sampai saat ini saya masih tinggal di Bekasi.
Saya tipe orang yang suka berpetualang, dari
SD saya aktif di Pramuka hingga MAN, prestasi saya di Pramuka cukup bagus.
Bukan hanya sekedar menang lomba atau mendapatkan juara umum, saya juga pernah
dipercaya menjadi delegasi Indonesia di event terbesarnya Pramuka Dunia pada
tahun 2015 saat itu, yaitu 23rd World Scout Jamboree Japan 2015 selain
itu saya juga pernah mewakili DKI Jakarta di Perkemahan Pramuka Madrasah 2017
di Bangka Belitung. Dua kegiatan itu adalah yang paling berkesan dan
membanggakan bagi saya. Selain itu saya juga aktif di beberapa organisasi saat
masih sekolah seperti MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas), ROHIS, Satgas Anti
Narkoba DKI Jakarta, Forum Anak Kota Bekasi, dan masih banyak lagi.
Setelah lulus dari MAN saya pun memilih IAIN
Purwokerto sebagai tempat melanjutkan pendidikan saya, di IAIN Purwokerto saya
aktif di dua organisasi, yaitu KSR PMI Unit IAIN Purwokerto dan tentunya yang
satu lagi adalah IMM Komisariat Yunus Anis.
Di IMM saya ingin lebih mengembangkan potensi
yang ada dalam diri saya, yaitu dengan mengikuti Latihan Instruktur Dasar, untuk
menjadi calon Instruktur saya tentu memiliki visi dan misi, visi saya yaitu
menjadi instruktur yang mampu beradaptasi dengan berbagai situasi, dan
menjunjung tinggi trilogi dan trikompetensi IMM. Sedangkan misi saya adalah
moderenisasi dalam berbagai kegiatan IMM, aktif dalam kegiatan sosial dan
kegiatan kemuhammadiyahan, serta mendalami atau mengikuti diskusi baik itu ilmu
agama maupun ilmu dunia.
Menurut KBBI instruktur adalah orang yang
mengajarkan sesuatu sekaligaus memberikan pelatihan serta bimbingan. Dari
pengertian menurut KBBI tersebut sudah sangat jelas bahwa tugas instruktur
adalah membimbing, dan membimbing itu tidak hanya sebentar apa lagi hanya lima
hari saja, tetapi berkelanjutan hingga orang yang kita bimbing itu benar-benar
bisa kita lepas.
Di IMM kita juga mengenal instruktur, dan untuk menjadi seorang instruktur
harus melalui pelatihan yang bernama Latihan Instruktuk atau sering disingkat
LI, Latihan Instruktur adalah perkaderan khusus yang menjadi fasilitas didik
resmi dan disusun secara berjenjang sebagai upaya untuk meningkatkan
kualifikasi kader secara bertahap agar memperoleh kompetensi dalam mengelola
perkaderen Ikatan. Di IMM terdapat tiga jenjang Latihan Instruktur yaitu
Latihan Instruktur Dasar (LID), Latihan Instruktur Madya (LIM), dan Latihan
Instruktur Paripurna (LIP). Tiap jenjang mempunya maksud dan tujuan tertentu.
LID dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingkat
Cabang, yang memiliki kewenangan mengelola perkaderan dalam lingkup wilayah
kepemimpinan komisariat, LIM dilaksanakan
dalam rangka mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingakat Daerah, yang
memiliki kewenangan mengelola perkaderan utama dalam lingkup wilayah
kepemimpinan Pimpinan Daerah IMM, dan LIP dilaksanakan dalam rangka
mempersiapkan tenaga-tenaga instruktur tingakat Pusat, yang memiliki kewenangan
mengelola perkaderan utama dalam lingkup wilayah kepemimpinan Pimpinan Pusat
IMM.
Hari ini mungkin kita sebagai mahasiswa Muhammadiyah ingin
sekali mengikuti semua jenjang tersebut, entah itu untuk mengisi CV kita,
menambah pengalaman, atau hanya sekedar terlihat keren saja. Tapi perlu diingat
bagi teman-teman IMM semua, bahwa tujuan kita untuk menjadi instruktur tidak
sesederhana itu, ada beban amanah yang besar dalam diri kita, kita harus bisa
mengawal trilogi dan tri kompetensi dasar IMM, dalam Religiusitas kita harus
memiliki pengetahuan agama yang baik, berakhlak baik dan harus menjadi muslim
yang taat. Dalam Intelektualitas kita harus bisa menjadi mahasiswa yang
memiliki intelektual tinggi, tidak mudah termakan hoax apa lagi menyebarkan
hoax. Dalam Humanitas kita harus bermanfaat bagi masyarakat, kita harus peka
apa yang sedang dirasakan masyarakat, bukan hanya pencitraan tetapi harus
serius dan dengan hati yang ikhlas. Apa bila kita hari ini dapat menjadi
instruktur yang dapat menawal dan menjalankan trilogi dan tri kompetensi dasar
IMM tersebut, maka insya Allah kita akan menjadi pribadi yang hebat dimasa yang
akan datang.
Dimasa yang akan datang mungkin akan terjadi banyak
perubahan, zaman akan semakin modern dan manusia tidak bisa lepas dari sistem
komputerisasi. Atau bahkan dimasa yang akan datang suasana akan lebih mencekam,
gadget tidak bisa digunakan, perang dimana-mana, manusia saling bunuh dan nyawa
manusia seperti tidak ada harganya. Sesuai dengan visi dan misi saya, saya
ingin menjadi instruktur yang mampu beradaptasi dari berbagai situasi, bahkan
situasi terburuk pun harus bisa saya hadapi.
Dalam menjadi instruktur kita ditugaskan untuk dapat
membentuk seorang kader, maka penting bagi seorang instruktur untuk memahami
kepribadian dan karakter seorang kader atau bisa disebut psikologi kader. Bagi
yang sering atau suka berorganisasi tentu kita sadar bahwa setiap orang
memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, apa lagi saat kita menjadi
seorang pemimpin pasti sering sekali menemukan anggota yang sulit diajak kerja
sama. Dari situ bisa terlihat seperti apa kepribadian dan karakter seorang
kader. Setiap kader memiliki masalah dan persoalannya masing-masing, bisa jadi
bukan kader tersbut yang tidak bisa memahami kita, tetapi mungkin kita yang
tidak bisa memahami apa yang dirasakan kader tersebut, maka dari itu penting
adanya sebuah pendekatan kepad kader agar kita bisa mengetahui dan memahami
seorang kader. Ketika kita sudah bisa mengetahui dan memahami kader tersebut
maka akan lebih mudah bagi kita menyelesaikan permasalahan kader yang sulit
diajak kerja sama tersebut.
Sudah dari bangku SMP saya aktif berorganisasi, sudah
banyak sekali sifat dan karakter orang yang saya temui, saat masuk dibangku
perkuliahan saya baru menyadari bahwa menunjukan ketegasan bagi tiap orang itu
berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamakan tingkat ketegasan kita kepada semua
orang, ada orang yang harus diinjak dulu baru dia sadar, ada yang harus di
lembutkan dulu, ada yang harus dibuat senang dulu baru kita bisa mengendalikan
orang tersebut. Dalam studi kasus yang saya pelajari tersebut ternyata sangat
berkaitan dengan psikologi kader. Maka dari itu sangat penting sekali seorang
instruktur dapat memahami dan mengetahui psikologi dari setiap kader.
LID adalah kegiatan jenjang perkaderan yang akan saya
ikuti dalam waktu dekat ini, dan saat nanti saya telah selesai mengikuti LID
saya memiliki rencana dan gagasan yang saya sudah siapkan untuk mengembangkan
diri saya sendiri dan juga IMM Banyumas. sebenarnya banyak gagasan yang ingin
saya sampaikan, tetapi mungkin gagasan dan rencana itu sudah pasaran jadi saya
hanya ingin memaparkan satu gagasan saja. Berkaitan dengan psikologi kader,
saya ingin sekali para instruktur di PC IMM Banyumas bisa mengadakan pelatihan
yang bekerja sama dengan seorang psikolog untuk dapat memahami karakter dan
kepribadian seseorang, baik melihat lewat tulisan, isi tas yang dibawa atau
bisa juga dari melihat tanda tangannya.
Komentar
Posting Komentar